CCP2

Showing posts with label struktur. Show all posts
Showing posts with label struktur. Show all posts

Friday, August 19, 2022

Geometri Jalan (2)


 


Mengapa GEOMETRI JALAN penting?

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.34 Tahun 2006, penjelasan untuk pasal 33 menampilkan bagian-bagian jalan melalui gambar di bawah ini.

Namun jika dikondisikan sebagai geometri jalan, salah satu tampilannya bisa seperti ini.

 

Geometri Jalan

 

A.  Median jalan

B.  Lajur lalu lintas

C.  Jalur lalu lintas

D. Bahu jalan adalah tepi jalan yang berfungsi melindungi perkerasan jalan, letaknya berdampingan dengan badan jalan.

E.   Badan jalan

F.   Saluran tepi jalan ≈ Drainase/selokan

G.  Jalur hijau

H.  Ambang Pengaman Jalan

I.   Rumaja (Ruang Manfaat Jalan) menurut UU No.2 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua atas UU No.38 Tahun 2004, terdiri atas.

·         Badan jalan;

·   Jalur kendaraan bermotor roda dua, pejalan kaki, pesepeda, dan/atau penyandang disabilitas;

·         Saluran tepi jalan;

·         Ambang pengaman jalan;

·         Jalur jaringan utilitas terpadu; dan

·     Lajur maupun jalur angkutan massal berbasis jalan maupun lajur khusus lalu lintas lainnya.

J.   Trotoar/ jalur pejalan kaki

K.  Rumija (Ruang Milik Jalan) menurut PP RI No.34 Tahun 2006, meliputi Rumaja dan sejalur tanah tertentu di luar Rumaja (kanan dan kiri) yang nantinya bisa digunakan untuk pelebaran jalan, penambahan jalur lalu lintas, dan kebutuhan ruangan untuk pengaman jalan. Dan bisa juga dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau.

L.  Ruwasja ( Ruang Pengawasan Jalan) adalah ruang yang berada di luar Rumija, yang berfungsi sebagai ruang pandangan bebas pengemudi, pengamanan konstruksi jalan dan pengamanan fungsi jalan.

Tuesday, August 9, 2022

Aspek yang Harus Diperhatikan Sebelum Merencanakan Jalan

 


Sebelum melakukan perkerasan jalan, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan terlebih dahulu supaya produk jalan bukan hanya kuat dan tahan lama, tapi juga harus tepat sasaran, nyaman dan sesuai dengan perhitungan dana yang direncanakan.

 

Dalam melakukan perencanaan jalan, kita harus paham:

  • Prinsip perkerasan jalan
  • Konsep dasar perkerasan jalan
  • Metodologi perancangan perkerasan jalan
  • Material perkerasan jalan
  • Kebutuhan ketebalan perkerasan jalan
  • dll.

Mengapa demikian?

Karena setiap jenis kendaraan memiliki kualifikasi pembebanan yang berbeda-beda. Kualifikasi pembebanan yang berbeda-beda maka bahan material perkerasannya pun juga harus dibuat berbeda. Sama dengan semua infrastruktur highway di negara manapun, di Indonesia pun, setiap jenis jalan memiliki daya dukung yang berbeda-beda.


Aspek yang harus diperhatikan sebelum merencanakan jalan, antara lain.

  1. Sesuai dengan kebutuhan lalu lintas yang akan dilayani di ruas jalan tersebut
  2. Sesuai standar teknik yang didasarkan pada ketetapan instansi yang berwenang
  3. Sesuai dengan perhitungan dana (Rencana Anggaran Biaya / RAB)
  4. Tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan dan efek ke lingkungan
  5. Jalan harus dibangun dengan tujuan positif tertentu dan sebaiknya berpotensi untuk pengembangan sosial, ekonomi dan wilayah 

 

Sebagai bagian dari tahapan kegiatan penyelenggaraan jalan, jadi perencanaan jalan itu bukan hanya tentang produk fisik yang baik secara visual, namun juga harus memenuhi kinerja jalan yang laik fungsi dan berdayaguna kepada masyarakat alias berpihak pada kepentingan masyarakat.

Jadi, aspek-aspek dalam perencanaan jalan ini diharapkan mampu membawa kita pada tujuan penyelenggaraan jalan itu sendiri, yaitu terwujudnya sistem jaringan jalan yang efektif, efisien, dan berkelanjutan untuk mendukung terselenggaranya sistem transportasi yang terpadu. (baca kembali Undang-Undang No.2 tahun 2022 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang No.38 tahun 2004 tentang Jalan)

Tuesday, August 2, 2022

Elevasi (2)

 


Yang mau baca bagian pertama disini.

Misal, kita rencanakan tinggi lantai 60cm dari permukaan jalan, maka level utama (0.00) rumah diukur 60cm lebih tinggi dari permukaan jalan. Level utama (level nol) biasanya adalah teras rumah, ruang tamu, atau ruang keluarga.

Level dari ruangan-ruangan lainnya bisa kita tentukan sendiri. Tanda minus (-) berarti dibuat lebih rendah dari level utama, sedangkan tanda tambah (+) berarti dibuat lebih tinggi dari level utama.

Misal, kamar tidur. Bisa dibuat sama dengan level utama atau ditambahkan 5cm (+0.05).

Ruangan dapur dan ruang makan bisa dibuat sama dengan level utama atau dikurangkan 2-5cm (-0.02 s/d -0.05).

Khusus beranda kamar, kamar mandi, atau area lain yang ada kemungkinan terkena air secara langsung, sebaiknya memang dibuat lebih rendah dari level utama supaya area tersebut tidak ditemukan genangan air (air mengalir ke saluran pembuangan air). Rencana bisa dibuat 2-5 cm (-0.02 s/d -0.05).

  1. Jika perbedaan level kurang dari 500mm, pertimbangkan penggunaan tangga yang bisa dibuat dari pasangan batu bata atau beli tangga portable saja.

    • Kalau memang akan ada banyak aktivitas naik turun yang cukup berat dan rutin melalui tangga ini, maka sangat disarankan dibuat dari pasangan batu bata.
    • Kalau hanya sekadar aktivitas naik turun tangga biasa yang dilewati perorangan, ya beli tangga portable. Karena memang diperuntukkan sebagai tangga utama, sebaiknya cari yang ukuran lebar tangganya lebih 900mm. Tetap pada asumsi ada aktivitas naik turun yang berat melalui tangga ini.

  2. Jika perbedaan level diantara 500mm-2500mm, bisa beli tangga portable atau sekalian buat tangga dengan tulang kolom. Kalau mau terlihat tetap estetis dan tangga tidak mengambil banyak tempat, ada pilihan menarik dengan menggunakan tangga lipat dinding. Tapi ya kembali lagi, soal dana dan keamanan juga, mendingan buat tangga dengan tulang kolom sekalian. Pasti lebih lebih aman sebagai tangga utama. 

  3. Jika perbedaan sudah lebih dari 2500mm, memang harus menggunakan tangga dengan tulang kolom supaya aman.  


Kembali ke persoalan elevasi lantai 2.
Untuk menentukan elevasi lantai 2, harus diketahui terlebih dulu ketinggian plafon dari bangunan rumah, jadi bisa didapat ketinggian plafon lantai 1 yang ideal.
Sebagai tambahan, tinggi plafon bangunan rumah tinggal (1 lantai) di Indonesia biasanya 2500mm - 3200mm, tapi ya semua tergantung rencana si pemilik rumah. Bahkan ada yang membuat tinggi plafon rumahnya lebih dari 7000 mm.

Setelah mengetahui ketinggian plafon lantai 1 ditambah dengan rencana tebal plat lantai (anggap 120mm), maka baru dapat ditentukan elevasi lantai 2. Kemudian, rencanakan desain tangga dengan teliti supaya bisa ditentukan level lantai 2. Perhitungkan jumlah anak tangga supaya bisa sampai ke lantai 2, perhitungkan ukuran optrade (tinggi anak tangga) dan antrade (pijakan kaki anak tangga), karena jika salah dalam perhitungan dan pengerjaan di lapangan, ya tentunya harus bongkar ulang.
Jika akan membangun lantai lebih dari 1, yang penting desain tangganya harus mencapai ketinggian lantai berikutnya.

Tapi jika drafter sudah mengerjakan kemauan desain dan perhitungan yang sudah diperiksa dan disahkan oleh tim teknis (dan/atau si pemilik rumah tinggal), berarti tukang atau kontraktor tidak perlu lagi mengira ketinggian plafon lantai 1 dan lantai 2 karena sudah diketahui. Berarti pengawas lapangan (dan/atau si pemilik rumah tinggal) cukup mengawasi progress fisik di lapangan.


Monday, August 1, 2022

Elevasi

 

Elevasi adalah posisi vertikal suatu objek dari suatu titik tertentu, karena ini berkaitan dengan ilmu konstruksi, maka dapat disimpulkan bahwa elevasi adalah PERBEDAAN KETINGGIAN SUATU LAHAN/AREA TERHADAP OBJEK ACUAN.

Sekarang untuk memperoleh data elevasi sudah jauh lebih mudah, dari yang sederhana seperti waterpass, yang portable seperti theodolite, hingga teknologi perangkat lunak seperti GPS Map, Google Earth, Global Mapper, dsb. Bahkan di perangkat seluler sekarang bisa install aplikasi-aplikasi yang menyediakan fungsi kompas, waterpass, klinometer, altimeter, dll.
Biasanya menjadi acuan adalah permukaan laut atau dengan permukaan geoid WGS-84 (World Geodetic System 1984). WGS itu ada yang WGS-60, WGS-66, WGS-72, setahu saya, Indonesia masih memakai WGS-84, cmiiw.

Pada ilmu teknik konstruksi bangunan seperti rumah tinggal, objek acuan yang digunakan adalah permukaan jalan. Jadi sebelum membangun rumah tinggal, harus diketahui dulu level utama (level nol) bangunan terhadap jalan. Level utama (level nol) biasanya adalah teras rumah, ruang tamu, atau ruang keluarga. Ketinggian lantai rumah bisa lebih rendah dan bisa lebih tinggi dari permukaan jalan, tergantung perencanaan awal. Tapi kalau saya sendiri menyarankan untuk membuat lantai rumah lebih tinggi dari permukaan jalan karena memperhitungkan apabila ada kondisi saluran drainase depan rumah tidak berfungsi dengan baik dan jaringan perpipaan limbah rumah tangga. Karena bila drainase yang tidak berfungsi baik, lama kelamaan juga akan mempengaruhi kualitas jalan.

Berikut adalah poin-poin yang bisa saya bagikan terkait elevasi perencanaan lantai rumah (lantai 1).

  • Kalau jalan di depan kavling rencana merupakan jalan dengan lalu lintas rendah, ketinggian lantai rumah terhadap jalan bisa direncanakan cukup 5-10cm.
  • Kalau jalan di depan kavling rencana merupakan jalan dengan lalu lintas sedang, ketinggian lantai rumah terhadap jalan bisa direncanakan 10-20cm.
  • Kalau jalan di depan kavling rencana merupakan jalan dengan lalu lintas tinggi ditambah sering dilewati kendaraan bermuatan cukup berat setiap harinya, ketinggian lantai rumah terhadap jalan bisa direncanakan 20-40cm.
  • Kalau kavling rencana tidak seimbang, harus diperhatikan kembali ketinggian urugan tanahnya jadi lantai rumah seimbang dan tetap harus lebih tinggi dari permukaan jalan. Ketinggian bisa direncanakan 100 cm. Bahkan saya pernah menemukan ketinggian lantai konstruksi yang dibuat 150cm - 200cm dari permukaan jalan karena bisa jadi kondisi lingkungan rawan gusur.


Saya yakin tidak ada orang yang mau membangun gedung di kawasan rawan banjir, jadi ya sebaiknya pikir-pikir dulu sebelum membeli tanah.

Namun, ketika sudah mengetahui resiko dan masih berniat membangun rumah tinggal, ketinggian lantai bisa direncanakan untuk dinaikkan setinggi 60cm-100cm dari permukaan jalan. Kalau mau lebih tinggi lagi, ya silakan saja. Drainase juga harus dibuat lebih dalam dan/atau lebih lebar.

Minusnya, bila lantai ditinggikan dari permukaan jalan, ya lebih capek, lebih pake effort kalau melangkah.
Kok capek?

Ketinggian langkah kaki orang dewasa (dalam kategori nyaman, jika dilakukan berulang), maksimal ya 19cm lah. Ingat kembali, formula perancangan struktur tangga, untuk tinggi anak tangga dalam range 15-19cm saja. Kurang dari 15cm, terasa janggal. Lebih dari 19cm, terasa pegal.

Tapi mau dibuat senyaman apapun itu, berjalan melewati tanjakan itu butuh effort melangkah yang lebih besar sedangkan melewatinya sebagai turunan jadinya menuntut manusia lebih berhati-hati dalam melangkah dibandingkan sekedar berjalan di permukaan biasa (elevasi 0-5cm saja). Jadi ya, semua ada pertimbangannya.

Tapi intinya, ya kalau mau beli tanah, sebaiknya dipikirkan terlebih dulu, apakah area tersebut rawan banjir dan bagaimana pengelolaan sampah di area tersebut.

Bagian kedua disini Elevasi (2)

Kisi-kisi Soal Teknik Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) - Bagian 4

  Cek bagian 1 disini Cek bagian 2 disini Cek bagian 3 disini  ===========================================================================  ...